Kebijakan Pemerintah Dalam Mengatasi Kenaikan BBM


KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM MENGATASI KENAIKAN BBM YANG MENGAKIBATKAN LONJAKNYA HARGA PANGAN SERTA MEMPENGARUHI KONDISI MASYARAKAT KECIL 

Latar belakang

Indonesia adalah negara yang memiliki sumber daya alam melimpah. Kekayaan alamnya membentang dari ujung pulau sumatera hingga pulau papua yang meliputi sumber daya alam yang dapat diperbaharui dan juga yang tidak dapat diperbaharui. Para pendiri  bangsa (founding fathers) ketika merumuskan konstitusi negara (UUD 1945) menyadari betul  potensi kekayaan alam Indonesia. Oleh karena itu, dalam konstitusi secara khusus pasal 33 UUD 1945 ayat 3 dinyatakan bahwa bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Artinya, kekayaan sumber daya alam yang dimiliki negara ini harus benar-benar dikelola negara dengan sebaik-baiknya agar dapat dinikmati oleh segenap masyarakat dan  bukan hanya oleh segelintir orang. Kontroversi kenaikan harga minyak ini bermula dari tujuan pemerintah untuk menyeimbangkan biaya ekonomi dari BBM dengan perekonomian global. Meskipun  perekonomian Indonesia masih terseok mengikuti perkembangan perekonomian dunia, akhirnya kebijakan kenaikan BBM tetap dilaksanakan mulai. Dengan berkembangnya kontroversi yang ada terhadap kenaikan harga BBM tersebut, pemerintah berusaha mengetahui dampak langsung peristiwa kenaikan BBM terhadap kondisi masyarakat kecil di Indonesia. Bahan Bakar Minyak (BBM) merupakan komoditas yang memegang peranan yang sangat vital dalam semua aktifitas ekonomiu, dengan kenaikan BBM tersebut akan memperberat beban hidup masyarakat dan berdampak menurunnya daya beli masyarakat secara keseluruhan. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) selalu menjadi kegaduhan politik dan kontroversi di Indonesia, jika rata-rata sepanjang usia berdirinya Negara kesatuan Republik Indonesia, setiap 1,5 Tahun harga BBm selalu naik.
  
Kenaikan harga BBM dari Presiden soekarno hingga SBY:
1. Presiden soekarno: 12x menaikan harga BBM
2. Presiden Soeharto: 18x menaikan harga BBM
3. Presiden BJ. Habibie : tidak pernah menaikan harga BBM
4. Presiden Abdurrachman Wahid ( Gus Dur ) : 1x menaikan harga BBM
5. Presiden Megawati : 2x menaikan harga BBM
6. Presiden SBY : 3x menaikan harga BBM dan 3x pula beliau menurunkannya

Hingga saat ini, dari zaman pemerintahan Presiden Soekarno hingga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, BBM di Indonesia sudah 36 kali naik harga. Meski begitu, diterima atau tidak harga BBM di Indonesia masih yang termurah di kawasan Asia Tenggara (ASEAN). Perbandingan harga BBM di negara  -  negara ASEAN lain pada Tahun 2012 :
1.      Indonesia (Ron 88) Harga BBM di Indonesia: Rp. 4.500 (disubsidi pemerintah).
2.      Malaysia (Ron 95) Harga BBM di Malaysia: Rp. 5.753 (disubsidi pemerintah).
3.      Philippines (unleaded) Harga BBM di Philippines: Rp. 12.147 (tidak disubsidi  pemerintah).
4.      Thailand (Blue Gasoline 91) Harga BBM di Thailand: Rp. 12.453 (tidak disubsidi  pemerintah).
5.      Singapore (Grade 92) Harga BBM di Singapore: Rp. 15.695 (tidak disubsidi  pemerintah).

Kenaikan harga BBM ditempuh untuk mengurangi beban subsidi yang sangat besar dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara dan alokasi dari subsidi BBM akan dialihkan menjadi alokasi bagi rakyat miskin artinya akan ada 11,6 triliun yang akan di alokasikan untuk BLSM dan 6 triliun untuk program infrastruktur kemudian ada juga untuk raskin dan PKH.
Alasan Pemilihan Judul
Alasan pemilihan judul mengenai
kebijakan pemerintah dalam mengatasi kenaikan  BBM yang mengakibatkan lonjaknya harga pangan serta mempengaruhi kondisi masyarakat kecil,
Yaitu :
1.      Kenaikan harga BBM yang menyebabkan Inflasi yang berdampak bagi masyarakat kecil.
2.      Kurangkan perhatian dari pemerintah.
3.      Subsidi bebani APBN. ( anggaran pendapatan belanja negara )
4.      Mengetahui kebijakan yang dilakukan pemerintah dalam mengatasi lonjaknya harga  pangan atau BBM yang mengakibatkan masyarakat kecil menjadi korban.
5.      Mengetahui dampak dari masyarakat kecil dengan kenaikan harga BBM yang mempengaruhi lonjaknya harga pangan.

PEMBAHASAN

Bahan Bakar Minyak (BBM) merupakan komoditas penentu kelangsungan  perekonomian suatu negara. Hal ini disebabkan oleh berbagai sektor dan kegiatan ekonomi di Indonesia mengandalkan BBM sebagai sumber energi dalam beraktivitas. Setiap aktivitas yang dilakukan oleh entitas ekonomi tidak lepas dari penggunaan BBM, mulai dari kegiatan yang dilakukan oleh rumah tangga hingga perusahaan yang memproduksi barang dan jasa. Ditinjau dari segi transportasi, keberadaan BBM sangat penting adanya karena kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh kemudahan dan akses transportasi yang baik. Oleh karena itu, BBM berkaitan erat dengan sistem transportasi sebagai sumber tenaga penggerak. Sejak tahun 2002, Indonesia telah melakukan impor minyak mentah terkait dengan penurunan  produksi minyak dalam negeri. Di samping itu, Indonesia juga menerapkan kebijakan subsidi BBM untuk menekan beban masyarakat akan tingginya harga minyak dunia. Besarnya  jumlah pemberian subsidi ini akan mengalami fluktuasi selaras dengan perubahan harga minyak dunia. Secara tentatif dan tertuang dalam Blueprint Pengelolaan Energi Nasional 2005-2025, Indonesia memberikan subsidi BBM dalam beberapa jenis, yakni subsidi untuk minyak tanah, premium dan solar. Subsidi yang paling besar memakan dana adalah subsidi BBM jenis premium. Rendahnya harga BBM merupakan salah satu sumber defisit APBN yang sangat dominan namun hal ini memaksa pemerintah menaikkan harga BBM dengan rata-rata 30  persen pada tahun 2001. Jika pemerintah tidak menaikkan harga BBM sebesar 30 persen, subsidi BBM akan melonjak menjadi Rp 66 triliun pada tahun tersebut. BBM merupakan  bahan dasar untuk melakukan kegiatan di segala sektor dan kehidupan, maka kenaikan harga BBM yang sangat drastis akan menaikkan harga barang dan jasa termasuk harga kebutuhan sehari-hari bagi masyarakat walaupun pada kenyataannya biaya BBM hanya mencakup sekitar 6 persen dari rata-rata biaya produksi industri pengolahan. Sementara itu bagi rumah tangga, pengeluaran untuk BBM hanya meliputi sekitar 1,07 persen untuk kelompok miskin dan 0,15 persen untuk rumah tangga kelompok tidak miskin, atau total 0,21 persen dari anggaran belanja keluarga. Namun untuk pengeluaran transportasi rata-rata rumah tangga miskin dan tidak miskin mengeluarkan sekitar 2,60 persen dari seluruh anggaran belanja rumah tangga. Oleh karena itu, kelompok rumah tangga miskinlah yang paling terbebani oleh kenaikan harga BBM, karena di samping kebutuhan bahan bakar dan transportasi, kebutuhan- kebutuhan lainnya pasti naik juga harganya, sedangkan penghasilan mereka relatif kecil.

Berdasarkan kajian Badan Pengatur Hilir (BPH) Migas, ketidaktepatan sasaran dari subsidi BBM dikarenakan oleh ketiadaan pengawasan dalam pendistribusian, baik BBM  bersubsidi maupun BBM tidak bersubsidi. Lemahnya pengawasan ini terjadi karena tidak adanya koordinasi lintas sektoral antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah. Kurang efektifnya komunikasi ini menyebabkan kelangkaan BBM dan penyalahgunaan BBM  bersubsidi. Jika masalah ini terus berlanjut maka masalah-masalah di sektor BBM dapat menghambat pertumbuhan ekonomi lintas sektoral. Peranan pemerintah dalam bidang alokasi adalah untuk menjamin tercapainya penggunaan sumber ekonomi yang efisien, yang tidak dapat dicapai melalui mekanisme pasar bebas. Ekonomi membedakan efisiensi menjadi dua, yaitu efisiensi alokasi dan x-efficiency. Efisiensi alokasi adalah alokasi sumber- sumber ekonomi sesuai dengan kendala anggaran konsumen barang dan jasa.

 X- efficiency  menunjukkan kondisi pada sisi penawaran, yaitu apakah penyediaan suatu barang dan jasa sudah dilaksanakan dengan biaya minimum. Selain berperan dalam bidang alokasi sumber daya, pemerintah juga berperan dalam distribusi. Pemerintah dapat memengaruhi distribusi  pendapatan secara tidak langsung dengan kebijaksanaan pengeluaran pemerintah misalnya dengan subsidi BBM jenis premium. Besarnya subsidi BBM yang dikeluarkan oleh pemerintah bergantung pada harga minyak dunia yang sering tidak stabil. Semakin tinggi harga minyak dunia maka pemerintah akan menganggarkan dana yang makin banyak untuk dana subsidi. Alternatif untuk menekan  pengeluaran pemerintah adalah dengan menaikkan harga BBM, khususnya jenis premium yang merupakan konsumsi energi tertinggi. Berdasarkan penjelasan diatas maka dapat di tarik suatu permasalahan yang ada terhadap kenaikan harga BBM yang mengakibatkan lonjaknya harga pangan yang mempengaruhi kondisi masyarakat kecil. Permasalahan tersebut seperti:
1
 .      Tidak efektifnya kebijakan subsidi dalam mengatasi kenaikan harga BBM Setelah setahun kebijakan subsidi BBM dijalankan, timbul berbagai kontravensi untuk segera menghentikan kebijakan subsidi bbm, karena setelah di lihat-lihat ternyata kebijakan subsidi ini tidak berjalan efektif dan jauh dari tujuan semula. Kebijakan ini  justru membuat perekonomian indonesia semakin parah. Ini karena pada awalnya subsidi bbm diperuntukan kepada warga negara yang kurang mampu, namun kenyataannya disalahgunakan oleh kalangan kelas menengah keatas. Hal ini menyebabkan subsidi BBM salah sasaran dalam penyalurannya, karena subsidi yang tujuannya diberikan oleh kelompok yang kurang mampu tapi ternyata lebih banyak dinikmati oleh golongan masyarakat kelas atas. 40 persen kelompok pendapatan rumah tangga terkaya justru menikmati 70 persen subsidi tersebut, sedangkan 40 persen kelompok pendapatan terendah hanya menikmati sekitar 15 persen. Penghematan subsidi BBM memberikan dampak positif bagi perekonomian dan  pendidikan masyarakat. Alokasi dana dari penghematan subsidi yang mencapai Rp 38,18 Triliun (dari 2011-2013) akan dapat menunjang program percepatan  pembangunan infrastruktur transportasi dan pendidikan, Alokasi dana tersebut juga akan dapat digunakan untuk membuat konsep pendidikan gratis secara menyeluruh untuk seluruh siswa” . Oleh karena itu perlu adanya penghematan dan pengawasan agar sasarannya tidak melenceng dari yang seharusnya. Karena dengan semakin besarnya subsidi BBM, kemampuan pemerintah untuk membiayai berbagai program yang berorientasi pada  perbaikan kesejahteraan masyarakat miskin seperti pendidikan, kesehatan, Program  Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM), Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan  penyediaan infrastruktur menjadi terancam dikurangi. Setelah sekian lama masyarakat difasilitasi oleh pemerintah dengan subsidi BBM, akhirnya di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono diberlakukan gebrakan yang sangat sensasional. Mulai dari menaikkan BBM industri di tahun 2007, pengurangan subsidi di awal 2008 dan akhirnya dihapus pada akhir 2009. Pada permasalahan ini, saya akan mencoba untuk menganalisis sejumlah alasan yang mendukung penghapusan kebijakan subsidi BBM. Dan usaha-usaha apa saja yang dapat di tempuh untuk menghemat pemakaian BBM. Berikut adalah hasil analisis saya mengenai sejumlah alasan yang mendukung  penghentian kebijakan subsidi adalah :

a.      subsidi itu kini diragukan manfaat ekonominya. konsumsi BBM kita pada sektor transportasi sangat boros.
b.       subsidi BBM kita tidak tepat sasaran. Lebih banyak dinikmati golongan orang kaya.
c.       harga BBM yang rendah, selain tidak mendorong efisiensi, rawan terhadap  penyelundupan.
d.       penyediaan BBM oleh perusahaan monopoli tidak transparan dan tidak efisien.
e.      subsidi menghasilkan ketergantungan sangat tinggi pada BBM, padahal indonesia mempunyai sumber energi cadangan gas dan batu bara lebih besar daripada minyak  bumi. Jadi subsidi bbm tidak mendorong perkembangan sumber energi non-BBM tersebut.

Dari alasan-alasan diatas kita dapat mengetahui jika kebijakan subsidi BBM ternyata tidak berjalan efektif dan jauh dari tujuan semula. Oleh karena itu menurut saya jalan yang terbaik untuk menstabilkan APBN kita adalah dengan menghentikan  pemberian subsidi BBM dan menempuh cara lain untuk mengatasi masalah ini. Pemerintah harus memikirkan cara lain untuk efisiensi konsumsi bahan bakar minyak negara kita.

2.      Terjadinya inflasiInflasi terjadi apabila tingkat harga dan biaya umum naik; harga bahan pokok,harga bahan bakar, tingkat upah, harga tanah, sewa barang-barang modal juga naik.Selain itu, inflasi juga diakibatkan oleh :
a.       Pengeluaran pemerintah lebih banyak dari permintaan, 
b.       Adanya tuntutan upah yang tinggi,
c.        Adanya lonjakan permintaan barang- barang dan jasa-jasa,
d.       Adanya kenaikan dalam biaya produksi.Inflasi dapat disebabkan oleh dua hal,     
yaitu tarikan permintaan (kelebihanlikuiditas/uang/alat tukar) dan yang kedua adalah desakan (tekanan) produksi dandistribusi (kurangnya produksi (product or service) juga termasuk kurangnyadistribusi). Untuk sebab pertama lebih dipengaruhi dari peran negara dalam kebijakanmoneter (Bank Sentral), sedangkan untuk sebab kedua lebih dipengaruhi dari perannegara dalam kebijakan eksekutor yang dalam hal ini dipegang oleh Pemerintah(Government) seperti kebijakan fiskal (perpajakan/pungutan/insentif/disinsentif),kebijakan pembangunan infrastruktur dan regulasi.Inflasi tarikan permintaan (demand pull inflation) terjadi akibat adanya permintaan total yang berlebihan dimana biasanya dipicu oleh membanjirnya likuiditasdi pasar sehingga terjadi permintaan yang tinggi dan memicu perubahan pada tingkatharga. Bertambahnya volume alat tukar atau likuiditas yang terkait dengan permintaanterhadap barang dan jasa mengakibatkan bertambahnya permintaan terhadap faktor-faktor produksi tersebut. Meningkatnya permintaan terhadap faktor produksi itukemudian menyebabkan harga faktor produksi meningkat. Jadi, inflasi ini terjadi karenasuatu kenaikan dalam permintaan total sewaktu perekonomian yang bersangkutandalam situasi full employment, dimanana biasanya lebih disebabkan oleh rangsanganvolume likuiditas dipasar yang berlebihan. Membanjirnya likuiditas di pasar jugadisebabkan oleh banyak faktor selain yang utama tentunya kemampuan bank sentral dalam mengatur peredaran jumlah uang, kebijakan suku bunga bank sentral, sampaidengan aksi spekulasi yang terjadi di sektor industri keuangan.Inflasi desakan biaya (cost push inflation) terjadi akibat adanya kelangkaan produksidan juga termasuk adanya kelangkaan distribusi, meskipun permintaan secara umumtidak ada perubahan yang meningkat secara signifikan. Adanya ketidak-lancaran alirandistribusi ini atau berkurangnya produksi yang tersedia dari rata-rata permintaan normaldapat memicu kenaikan harga sesuai dengan berlakunya hukum permintaan dan penawaran, atau juga karena terbentuknya posisi nilai keekonomian yang baru terhadap produk tersebut akibat pola atau skala distribusi yang baru. Berkurangnya produksisendiri bisa terjadi akibat berbagai hal seperti adanya masalah teknis di sumber produksi, bencana alam, cuaca, atau kelangkaan bahan baku untuk menghasilkan produksi, aksi spekulasi (penimbunan), sehingga memicu kelangkaan produksi yangterkait tersebut di pasaran. Begitu juga hal yang sama dapat terjadi pada distribusi,dimana dalam hal ini faktor infrastruktur memainkan peranan yang sangat penting.Jika dihubungkan dengan kenaikan harga BBM, inflasi yang terjadi disebabkan olehadanya tekanan dalam proses produksi dan distribusi. Para produsen akan mengurangi jumlah barang yang akan diproduksi atas pertimbangan biaya produksi yang melonjak.Kalaupun proses produksi tetap lancar, proses distribusi lah yang akanmenghambatnya. Akibat dari kenaikan harga BBM biaya atau ongkos untukmendistribusikan barang hasil produksi akan mengalami kenaikan. Dampak kenaikan harga BBM Dalam situasi ekonomi masyarakat yang sulit, maka kenaikan BBM bisa kontraproduktif. Kenaikan harga BBM akan menimbulkan kemarahan masal, sehingga ketidakstabilan dimasyarakat akan meluas. Sebagian masyarakat merasa tidak siap untuk menerima kenaikan harga BBM. Kenaikan BBM ini merupakan tindakan  pemerintah yang beresiko tinggi. Meskipun demikian, kenaikan harga BBM juga dapat menimbulkan dampak yang positif dan dampak negatif.
  
a)      Dampak Positif

I.                    Munculnya bahan bakar dan kendaraan alternatif seiring dengan lonjaknya harga minyak dunia, muncul berbagai bahan bakar alternatif baru yang sudah dikenal oleh masyarakat luas BBG ( bahan Bakar Gas ). Harga juga lebih murah dibandingkan dengan harga BBM bersubsidi. Ada juga bahan bakar yang terbuat dari kelapa sawit. Tentunya bukan hal sulit untuk menciptakan bahan bakar alternatif mengingat Indonesia adalah Negara yang kaya akan Sumber Daya Alam. Selain itu, akan muncul juga berbagai kendaraan pengganti yang tidak menggunakan BBM, misalnya saja mobil listrik, mobil yang berbahan bakar gas, dan kendaraan lainnya.
II.                   Pembangunan nasional akan lebih pesat karena dana APBN yang awalnya digunakan untuk memberikan subsidi BBM, jika harga BBM naik, maka subsidi dicabut dan dialihkan untuk digunakan dalam pembangunan di berbagai wilayah hingga ke seluruh daerah.
III.                Hematnya APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) Jika harga BBM mengalami kenaikan, maka jumlah subsidi yang dikeluarkan oleh pemerintah akan berkurang. Sehingga Anggaran Pendapatan dan Belanja  Negara dapat diminimalisasi.
IV.                Mengurangi pencemaran Udara, Jika harga BBM mengalami kenaikan, masyarakat akan mengurangi pemakaian bahan bakar. Sehingga hasil  pembuangan dari bahan bakar tersebut dapat berkurang, dan akan berpengaruh  pada tingkat kebersihan udara. 

                 b)   Dampak Negatif

  1.       Harga barang-barang dan jasa-jasa menjadi lebih mahal. Harga barang dan jasa akan mengalami kenaikan disebabkan oleh naiknya biaya  produksi sebagai imbas dari naiknya harga bahan bakar.
2.       Apabila harga BBM memang dinaikkan, maka akan berdampak bagi  perekonomian khususnya UMKM (usaha mikro, kecil dan menengah)
3.       Meningkatnya biaya produksi yang diakibatkan oleh: misalnya harga bahan,  beban transportasi dll.
4.       Kondisi keuangan UMKM menjadi rapuh, maka rantai perekonomian akan terputus.
5.       Terjadi Peningkatan jumlah pengangguran. Dengan meningkatnya biaya operasi  perusahaan, maka kemungkinan akan terjadi PHK.
6.       Inflasi akan terjadi jika harga BBM menglami kenaikan. Inflasi yang terjadi karena meningkatnya biaya produksi suatu barang atau jasa.

KESIMPULAN

 Naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) akan berdampak bagi masyarakat. Baik itu dampak positif maupun dampak negatif. Dampak yang signifikan akan terjadi  pada tingkat inflasi dan pada kondisi perekonomian nasional. Dampak kenaikan harga BBM terhadap inflasi adalah akan terjadi kenaikan pada tingkat persentase inflasi. Jumlah uang yang beredar di masyarakat akan bertambah, dan akan berdampak pula  pada harga berbagai jenis barang dan jasa. Kondisi perekonomian akan mengalami goncangan, ketidakstabilan akan terjadi. Iklim investasi akan menurun, sehingga  berpengaruh pada jumlah pendapatan dan pengeluaran pemerintah. Kebijakan  pemerintah untuk mengatasi inflasi adalah dengan kebijakan moneter. Seluruh instrumen kebijakan moneter efektif dalam mengurangi dan mengatasi inflasi. Jika semua masyarakat meningkatkan konsumsinya terhadap BBM, maka tidak heran jika terjadi kenaikan harga BBM, Ini dikarenakan permintaan yang membubung tinggi sementara penyediaan barang mengalami kekurangan akan membuat harga  barang tersebut menjadi naik dan timbulnya inflasi. Apabila harga suatu barang mengalami penurunan, maka daya beli masyarakat dan permintaan masyarakat akan barang tersebut menjadi naik. Sebaliknya jika harga suatu barang mengalami kenaikan, maka daya beli masyarakat akan mengalami  penurunan. Sebagaimana yang tercantum dalam hukum permintaan. Berbanding terbalik dengan penawaran, jika harga suatu barang sedang mengalami penurunan, maka penawaran barang tersebut akan menurun pula, tetapi jika harga barang tersebut sedang mengalami kenaikan, maka penawaran akan barang tersebut juga akan meningkat. Sesuai dengan hukum penawaran. Terjadinya inflasi tergantung pada sejumlah faktor yang mempengaruhi naik turunnya tingkat harga, juga tergantung pada kebutuhan masyarakat akan barang tersebut.

SARAN

a. Pemerintah hendaknya memilih waktu yang tepat untuk mengeluarkan kebijakan menaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

b. Jika inflasi terjadi akibat dampak dari kebijakan pemerintah, diperlukan suatu langkah yang tepat dalam mengatasi inflasi yang terjadi. Pemerintah Indonesia harus segera mengambil suatu tindakan yang bijak, lebih memperhatikan masyarakat dan harus melindungi masyarakat dari inflasi. Karena inflasi dapat menurunkan daya beli masyarakat dan juga sangat menyengsarakan masyarakat miskin. Dengan terus menaiknya inflasi kesejahteraan masyarakat Indonesia pun kian berkurang. Namun tidak hanya pemerintah yang berusaha untuk mengatasi masalah inflasi ini tapi masyarakat juga harus mendukung pemerintah dengan ikut serta dalam penghematan pemakaian bahan bakar minyak dengan melakukan efisiensi energi pada sektor transportasi.



Komentar

Postingan Populer